Jakarta (Komisi Yudisial) – Calon hakim agung ketiga yang diwawancara di hari ketiga, Rabu (5/8/2026), untuk Kamar Perdata adalah Kepala Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung (MA) Sobandi. Menjawab pertanyaan mengenai pemberian kuota bagi putra-putri daerah dalam seleksi kepegawaian, Sobandi menegaskan bahwa pemberian kuota bagi putra-putri daerah telah sesuai dengan prinsip demokrasi dan meritokrasi.
Sobandi melanjutkan, pada 2000–2002, terjadi kekurangan hakim di sejumlah wilayah, khususnya Aceh dan Indonesia Timur. Bahkan, saat itu terdapat wilayah di Aceh yang tidak memiliki hakim. Kondisi tersebut terjadi karena mayoritas hakim ditempatkan di luar kedua wilayah tersebut.
Pada masa itu, proses seleksi hakim masih dilakukan oleh Mahkamah Agung (MA) bersama Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Untuk mengatasi kekosongan tersebut, kemudian muncul kebijakan seleksi dan pengadaan hakim melalui program putra-putri terbaik daerah. Kebijakan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hakim, panitera, maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah-daerah
“Ketika ada putra daerah misalnya dari Aceh atau Papua, akan ada pembinaan dari MA, ada pengawasan bersama KY. Salah satu pembinaan adalah mutasi dan promosi hakim, ASN, maupun kepaniteraan. Tidak melulu seumur hidup ditempatkan di Papua misalnya,” jelas Sobandi.
Berkaitan dengan prinsip meritokrasi dan demokrasi, Mahkamah Agung (MA) terus memberikan kesempatan yang setara kepada hakim, Aparatur Sipil Negara (ASN), maupun kepaniteraan untuk mengembangkan karier di lingkungan peradilan. Kesempatan tersebut diberikan melalui mekanisme uji kompetensi maupun open bidding dalam pengisian sejumlah jabatan.
“Demikian juga untuk jabatan Sekretaris MA atau jabatan Kepala Badan Urusan Administrasi, saya juga mengikuti uji kompetensi atau _open biding_ yang dilakukan MA. Waktu itu diikuti bukan saja oleh saya sebagai hakim, tapi juga oleh ASN dan kepaniteraan. Jadi saya kira lembaga peradilan atau MA dikaitkan dengan sitem meritokrasi maupun demokrasi, sudah menjalankan itu semua,” pungkas Sobandi. (KY/Noer/Festy)
English
Bahasa