Masa Orientasi CPNS KY Resmi Ditutup
Ketua Bidang Sumber Daya Manuasia, Advokasi, Hukum, Penelitian dan Pengembangan Sumartoyo foto bersama 21 orang CPNS Tahun 2018 usai menjalani orientasi di Komisi Yudisial (KY), pada Jumat (12/4).

Jakarta (Komisi Yudisial) – Setelah 21 orang CPNS Tahun 2018 menjalani orientasi di Komisi Yudisial (KY), pada Jumat (12/4) dilaksanakan penutupan acara secara resmi di Ruang Auditorium KY. Selama orientasi, CPNS menerima materi tentang pengenalan KY dan kesetjenan, integritas dan ASN dari perwakilan KPK dan Kemenpan-RB, juga materi tentang etos kerja dari psikolog. Anggota KY Sumartoyo hadir melakukan penutupan acara secara resmi.
 
Dalam sambutannya Sumartoyo mengingatkan pentingnya para CPNS waspada terhadap paham hedonis. Paham hedonis adalah paham mecari kesenangan apapun tanpa melihat akibatnya. 
 
“Kehidupan sekarang cenderung seperti itu, hidup hanya untuk mencari kesenangan. Contoh orang selalu mencari kesuksesan materi, bukan ibadahnya. Orang tidak peduli bagaimana materi itu didapat, yang penting sukses. Paham hedonis itu tidak bisa dilawan, tapi bisa ditahan. Misalnya tidak sedikit orang kaya tapi sederhana,” jelas Sumartoyo.
 
Sumartoyo memberikan pesan bagi para CPNS 2018. Pertama, pengalaman selama orientasi tidak cukup diterima, dibahas, atau dibicarakan, tapi juga harus dilaksanakan.
 
“Jadilah dewasa karena menghadapi banyak tantangan, bukan karena usia yang semakin tua. Sebab usia biologis sama kronologis tidak ada korelasinya. Bisa jadi tua umur, tapi sikapnya kekanak-kanakan, atau sebaliknya. Karena itu semangat di awal itu penting, tapi daya tahan terhadap tekanan jauh lebih penting terutama dalam proses kerja,” pesan Sumartoyo.
 
Kedua, di manapun didirikan dan pada cabang kekuasaan apapun ditempatkan, lembaga dengan nama “Komisi” selalu diberikan amanah lebih dalam mewakili intensi publik. Sehingga seluruh kerja-kerja KY bagaimanapun harus ditujukan untuk kepentingan publik, dengan metode yang juga mengakomodir sekaligus bersinergi dengan publik. 
 
“Kepercayaan publik harus jadi bahan bakar utama, dan tugas kita bersama untuk terus memelihara itu. Menjadikan KY sebagai lembaga yang hebat, maka itu juga berarti menjadikan seluruh tugas KY bukan hanya urusan internal, tapi juga urusan publik. Fokuslah bekerja, bukan bicarakan keburukan dan keterbatasan lembaga,” pungkas Sumartoyo. (KY/Noer/Festy)